Senin, 14 Mei 2012
National Student Environmental Conference 2012
Posted by
isnaninuneno
at
1:58 PM
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
| Reactions: |
Minggu, 26 Februari 2012
Pasar Gawok : a traditional market on the outskirts of Solo, Central Java
this is my first day at home, I read a newspaper this morning and I found a good article that inspired me so much. that's wrote about culture, human, friendliness, hospitality, and different sides about Solo City.
Pasar Gawok is about 10 kilometers south-west of Surakarta, surrounded by stretches of paddy fields with the Gawok River flowing right behind the market. the precise location is in Geneng village, Gatak district, Sukoharjo regency.
it offers many things that rural people most needed, such as food, antiques, songbirds, bamboo kitchen utensils, cattle, bikes, and many more. but, there is one part at this market that steal the show, and of course the most thrilling part is the pureness.
from those, I realize that many people outside, especially the rural need help from us, to stop the modernisation without any impureness
Pasar Gawok is about 10 kilometers south-west of Surakarta, surrounded by stretches of paddy fields with the Gawok River flowing right behind the market. the precise location is in Geneng village, Gatak district, Sukoharjo regency.
it offers many things that rural people most needed, such as food, antiques, songbirds, bamboo kitchen utensils, cattle, bikes, and many more. but, there is one part at this market that steal the show, and of course the most thrilling part is the pureness.
actually, they're not full-time trades. many of them sell their bikes for want of money to buy paddy seedlings or fertilizer so they offer prices far lower than those at Pasar Triwindu ; Solo's antique market
from those, I realize that many people outside, especially the rural need help from us, to stop the modernisation without any impureness
Posted by
isnaninuneno
at
5:41 PM
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
| Reactions: |
“BADAI” IKAN IMPOR MELANDA NELAYAN KECIL INDONESIA
Lagi, berita
yang mencengangkan untuk kesekian kalinya datang dari bidang pangan kita. Santer
mencuat kabar ikan impor dari Cina yang masuk bebas di pasaran bahkan untuk
konsumsi rumah tangga. Padahal menurut pasal 45 tahun 2009 telah menyatakan
bahwa impor ikan hanya diperuntukkan bagi industri-industri sebagai bahan baku
utama produk mereka. Tak berhenti disitu masalah kembali muncul ketika
disinyalir bahwa ikan-ikan impor tersebut telah terkontaminasi formalin. Senyawa
berbahaya bagi pangan karena formalin adalah senyawa pengawet mayat. Nah...
apakah sekarang kita masih yakin dengan julukan ikan sebagai lauk-pauk sehat
yang kaya akan sumber protein hewani?.
Sore ini saya
melihat tayangan Seputar Indonesia yang mengulas tentang seluk-beluk ikan
impor. Dan miris saya rasakan ketika terdapat berpuluh-puluh box berisi
ikan-ikan impor beku yang sengaja disimpan di salah satu Instansi Pemerintah
yang berhubungan dengan perikanan dan kelautan di daerah Indramayu. Waow...
sangat vulgar sekali negeri ini keika instansi pemerintah pun sekarang sudah
berani menyimpan barang-barang yang mereka anggap “haram” itu. Apakah sudah
tidak ada lagi hukum yang kuat untuk bisa mengatur para pejabat negara ini?.
Pertanyaan saya
menguap begitu saja, seiring dengan berbagai artikel yang muncu di jendela
browser saya setelah sebelumnya saya mencari artikel tentang ikan impor
Indonesia. Ternyata tak hanya dari Cina, ikan impor yang kebanyakan berformalin
ini juga datang dari Malaysia dan Pakistan. Fakta-fakta ini begitu miris
melihat bahwa perairan Indonesia dibandingkan dengan Malaysia atau Pakistan jauh
lebih luas dan maha kaya akan ikan-ikan yang berkualitas. Tapi kemanakah
ikan-ikan itu berada?. Mengapa justru ikan-ikan impor dengan kualitas formalin
yang banyak membanjiri pasar-pasar lokal kita?.
Hal ini saya
sebut semacam badai bagi para nelayan lokal kita. Selain cuaca akhir-akhir ini
yang tidak menentu, ombak dan gelombang laut tinggi, cuaca dan angin yang tidak
bersahabat, juga gempuran pasokan ikan impor yang lebih menggiurkan para
konsumen menjadi badai yang telak bagi para nelayan kecil yang telah lelah
menjerit. Tidak hanya itu isu BBM naik juga semakin mencekik leher mereka. Kini,
apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen?. Lagi-lagi saya mengajak untuk
hidup bijak dengan menjadi konsumen yang bijak. Makan makanan lokal yang sehat
dengan biaya yang sedikit lebih mahal tapi investasi jangka panjang yaitu
kesehatan. Selain kita menjaga kesehatan untuk investasi jangka panjang kita
juga turut membantu kestabilan ekonomi lokal yang berbasis kerakyatan. Dengan membeli
kebutuhan dengan brang-barang lokal maka kita juga turut menyumbang
kelangsungan hidup saudara-saudara kita yang terlibat dalam pengadaan barang
tersebut.
Yaitu dengan
kita membeli ikan-ikan lokal yang lebih fresh dan sehat, secara otomatis kita
juga akan membantu perekonomian nelayan-nelayan di pesisir yang setiap harinya
berlayar dengan perahu-perahu mereka mencari ikan di lautan Indonesia. Walaupun
kontribusi kita terhitung kecil tapi dampak dari perilaku bijak kita itu dapat
memberi efek yang besar terhadap para nelayan kecil kita yang konsisten dengan
kontribusi mereka. Jadi apakah Anda akan tetap acuh dengan fakta-fakta ini?.
Posted by
isnaninuneno
at
5:33 PM
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
| Reactions: |
Sabtu, 11 Februari 2012
Pasar Prambanan : Sebuah Komunitas Tradisional Ditengah Gerusan Metropolitan Yogyakarta
Melihat hiruk-pikuk sebagian masyarakat Yogya pinggiran yang dibalut keramah-tamahan dan kekeluargaan, saya baru sadar bahwa selama ini pasar Prambanan tetap kokoh berdiri ditengah gencatan swalayan elit ala Amerika. Tidak banyak orang yang mengekspos pasar tradisional ini dengan apik. Namun, bagi saya pasar ini memiiki 'sesuatu' yang tidak dimiliki pasar lainnya.
Pasar Prambanan memang menyimpan sejuta kenangan bagi saya. Karena Ayah berasal dari Prambanan, maka setiap pulang kampung kami selalu mampir di pasar ini. Dan itu pula yang membuat saya enyadari betapa Kapitalisme telah menggerogot idealisme dan jati diri kita sendiri. Sembari menyusuri lorong-lorong kecil di setiap sudut pasar ini, pikiran saya melayang. Melihat wanita-wanita paruh baya yang lebih cocok saya panggil nenek sedang menjual 'ingkung' ayam lengkap dengan wadah berupa 'besek'. Di pintu masuknya banyak penjual-penjual bunga tabur dan makanan-makanan tradisional seperti jadah, pecel pincuk, sayur kulit mlinjo, karak, dan makanan-makanan lain yang tentunya tidak akan saya temukan di swalayan.
Bagaimana tidak?
Pasar Prambanan terletak di Jalan Yogja-Solo yang amat strategis, tetapi dilihat dari infrastrukturnya saja pasar ini bak anak kehilangan induk. Bangunan yang aus tidak bisa dibohongi lagi untuk segera mendapat perhatian khusus. Beberapa lantai memang sudah diubin , tapi sebagian lainnya masih bealaskan tanah yang jika terkena hujan tentu kita akan bisa memprediksi. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa kaum urban tidak mau mampir dan membelanjakan uang mereka dipasar-pasar tradisional. Begitu juga dengan pasar Prambanan yang telah lama ditinggalkan oleh para kaum urban Yogya yang lebih banyak memilih swalayan dengan kereta dorong mereka.
Iming-iming bersih, higienis, kwalitas impor, nyaman, serta tak perlu pergi jauh-jauh dari rumah membuat kaum urban kini lebih memilih swalayan yang sekarang menjajah di perumahan-prumahan kota. Namun, apakah selamanya kita akan bergantung pada swalayan?. Mengabaikan kwalitas lokal dan harga yang lebih murah tentunya?. Jika saya boleh berbicara maka jawabannya adalah 'TIDAK'. Tidak akan swalayan-swalayan itu menjamur akibat derasnya hujan permintaan dari para konsumen. Tidak akan pasar-pasar tradisional itu terhimpit nasibnya jika kita sebagai konsumen lebih bijak dalam memutuskan mana yang harus dibeli, dimana harus membeli, dan siapa yang menyediakan.
Konsumen yang bijak akan membawa dampak yang signifikan bagi ekonomi masyarakat. Karena dengan kita bijak memilih untuk berbelanja di pasar tradisional seperti pasar prambanan, maka nenek-nenek yang menawarkan dagangan mreka akan pulang dengan senyum tersungging di pipinya sambil membawa uang di sakunya. Lalu beliau akan bercerita panjang-lebar dengan anak cucu mereka bahwasanya menjual hal-hal yang berbau tradisional di tempat tradisional itu masih menjanjikan.
Mari berbelanja di pasar tradisional :)
Posted by
isnaninuneno
at
9:28 PM
0
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
| Reactions: |
Kamis, 02 Februari 2012
Menyajikan Kembali Pangan Lokal di Meja Makan Kita
Saya baru saja menyantap hidangan makan malam berupa makanan khas Indonesia yaitu temped an tahu bacam. Suasana menghangat seiring dengan riuhnya obrolan-obrolan kecil bersama ayah dan ibu di meja makan malam ini.
Sekonyong-konyong terlintas dipikiran saya tentang bagaimana makanan-makanan ini bisa hadir di meja makan. Bagaimana kedelai-kedelai ditanam, bagaimana para petani memanen, dan bagaimana kedelai ini difermentasi hingga menjadi tempe dan tahu. Saya kemudian ‘surfing’ di dunia maya tentang pasokan kedelai di Indonesia. Jawaban mencengangkan datang dari www.rakyatmerdekaonline.com pada 12 Februari 2011 menyatakan sekitar 70 persen pasokan kedelai Indonesia diperolah melalui impor yang sebagian besar dari Amerika Serikat. Kemudian ‘surfing’ saya lanjutkan ke beberapa pangan lain seperti beras, susu, anak ayam, garam, gandum, dan margarine hampir semuanya menunjukkan angka lebih dari 50 persen mendatangkan dari luar negeri. saya semakin miris ketika dengan sigap jari-jemari membuka halaman demi halaman majalah Respect yang saya dapat dari sebuah acara camp minggu lalu. Disitu tertulis
“Saat manusia membicarakan berbagai teknologi canggih yang aplikasinya kebanyakan untuk hiburan, sebagian penduduk dunia masih tidur dengan perut lapar.”
Dan saya termasuk kedalam manusia tersebut.
Begitu jahatnya saya menyadari bahwa selama ini saya makan diatas penderitaan orang lain. Contoh saja ketika bicara soal sarapan. Kala SMA dulu saya termasuk penyuka roti tawar. Ya… roti tawar yang biasa saya olesi dengan margarine dan ditabur meses coklat dan selembar keju. Soroti saja margarinnya, ketika bicara soal margarine tentu kita akan bicara mengenai sawit. Perkebunan sawit yang maha luas didaerah Sumatra sana membumbung di angan-angan kita. Tapi apakah kita semua tahu cerita dari dalam perkebunana sawit itu sendiri?. Sebuah perkebunan sawit merupakan satu usaha berbisnis yang amat sangat menjanjikan. Mengapa tidak?. Dengan lahan sawit yang umumnya berhektar-hektar, pengusaha sawit mendapat miliaran rupiah dari penjualan CPO mentahnya saja (bagi yang belum paham CPO adalah Crude Palm Oil atau disebut juga minyak kelapa sawit). Bisnis sawit ini memang sudah menggiur banyak orang untuk menggelutinya dan mangabaikan isu-isu lingkungan yang selalu membuntuti bisnis ini.
Asal tahu saja lahan yang digunakan atau dikonversikan untuk perkebunan sawit selamanya tidak akan bisa ditanami tanaman selain pohon sawit.
Sebagai orang biologi yang setiap hari dicekoki teori biodiversitas, tentu perkebunan sawit sangat bertentangan dengan konsep biodiversitas yang multikultur dan mengedepankan keanekaragaman hayati. Bahkan parahnya sekarang ini ekspansi sawit mulai mengusik hutan-hutan dan juga lahan gambut. Sampai disini, apakah sebaiknya kita masih berpihak pada komoditas serakah ini?.
Sawit watch, sebuah lembaga non pemerintah yang konsern di bidang isu-isu negative dampak dari perkebunan besar kelapa sawit dalam risetnya tahun lalu menyebutkan perkebunan sawit memunculkan konflik antara masyarakat adat dengan perkebunan besar, pada tahun 2010 sebanyak 663 kasus konflik agrarian terjadi di kawasan perkebunan sawit (Respect Magazine Edisi 09). Sebut saja kasus Mesuji yang baru-baru ini terjadi di Lampung dan Sumatera Selatan merupakan salah satu kasus pelanggaran HAM dalam praktek bisnis perkebunan sawit.
Masalah tidak selesai disitu saja kawan, hasil dari perkebunan sawit di Indonesia umumnya mengekspor CPO mentah mereka ke luar negeri. Padahal sebagai Negara terbesar pemilik perkebunan sawit dunia, Indonesia harusnya bisa meningkatkan nilai jual CPO mentah dengan meningkatkan kemandirian Negara. Salah satunya dengan mengolah CPO tersebut menjadi bahan setengah jadi ataupun barang jadi akanlebih bagus lagi. Namun yang terjadi di lapangan sebanyak 80% CPO mentah diekspor keluar. Dan ironisnya, sampai sekarang Indonesia masih mengandalkan Negara-negara pembuat margarine yang bahan bakunya dari sawit, seperti Amerika Serikat, Jerman, Belgia, Australia, Belanda, dan GILANYA Singapura (Negara yang bahkan tidak punya perkebunan sawit!).
Melihat fakta tersebut, pikiran kembali liar menuju dunia yang semrawut. Teringat akan pekebun-pekebun kecil yang jabatannya hanya sebatas buruh kebun dari perusahaan perkebunan sawit raksasa. Setiap hari bekerja dengan peluh bercucuran, bahkan kadang harga dirinya pun tidak dihargai, upah kerja yang didapat lebih rendah dari UMR yang ditentukan. Dan sampai tak tega lagi saya membayangkan lebih jauh, jika uang dari upah kerja yang mereka dapatkan kemudian mereka belikan satu bungkus margarine atau 1 liter minyak goreng di toko dengan uang yang sama. Tidakkah mereka merasa sedih jika melihat sawit yang mereka pelihara tiap harinya berubah nama menjadi milik Negara asing?.
Teringat akan kakek disana yang setiap pagi membawa cangkul, dengan rantang makanan di tangan lainnya. Begitu ‘desa’ sekali mengingat momen itu. Membayangkan kakek yang dengan sepenuh hati menanam padi di sawah lalu ketika panen raya tiba, beliau mendapati beras-beras impor masuk dengan bebasnya ke pasar-pasar dan memanjakan pembeli dengan gembar-gembor harga murah. Tidakkah kakek saya merasa sedih ketika diperlakukan seperti itu?.
Tak tega lagi saya membayangkan perjuangan kakek yang ketika berniat menanam padi untuk memasok kebutuhan pangan Negara akan nasi,sudah dipaksa membeli bibit, pupuk, pestisida IMPOR!. Saya hamper saja banjir air mata ketika membayangkan perjuangan kakek saya dan para petani, pekebun, juga nelayan kecil lainnya di Negara ini. Merekalah ujung tombak kehidupan Negara, tetapi mereka juga korban dari kebijakan yang sama sekali tidak bijak dari para penguasa.
Maka saya mencoba mengambil sikap tegas, walaupun saya tidak bisa berbuat banyak mengingat kapasitas saya sebagai mahasiswa tingkat 6. Namun, dengan mencoba untuk menyajikan pangan local di meja makan setiap harinya, menurut saya itu akan membantu membahagiakan banyak pihak termasuk kakek saya sendiri. Yang jelas saya mencoba untuk makan dengan tidak membiarkan orang lain tidur dengan perut kelaparan.
Posted by
isnaninuneno
at
10:58 PM
2
comments
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
| Reactions: |



